Cerita SEKS PARA TANTE GIRANG - Agen Poker dan Bandar Q

Image result for gambar wanita biseks

Ceritasemi17 - Suatu sore aku iseng kirim SMS ke ponsel Tante Ranie. Sekedar say hello aja sih, soalnya udah lama juga aku nggak ketemu dia. Isinya singkat, “SORE TANTE, PA KBR NICH?”. Tanpa kuduga Tante Ranie langsung menelpon balik.
“Halo..”, sapaku.
“Hai.. bikin kaget aja, kirain siapa?” sahut Tante Ranie di seberang sana.
Terdengar ribut sekali, mungkin wanita itu sedang berada di tempat ramai.
“Hahaha.. kirain udah lupa sama aku Tante..”, balasku.
“Nggak dong sayang, eh kamu lagi ngapain nih?” tanya Tante Ranie.
“Yah.. lagi nunggu waktu pulang aja Tante.” jawabku.
“Abis itu mau kemana?” tanya Tante Ranie lagi.
“Ya pulang ke rumah..”, jawabku.
Tante Ranie tidak langsung menjawab. Terdengar suara-suara ribut di belakangnya dan terdengar suara Tante Ranie yang meladeni mereka.
“Kalo gitu jalan sama aku aja yuk..”, ajak Tante Ranie.
“Ngg.. lain kali deh Tante, kan bukan weekend..”, tolakku agak halus.
Aku tau betul kalau Tante Ranie ngajak jalan pasti ujung-ujungnya nginep. Entah di rumah, di villa atau di hotel.
“Aduh Yo.. sekali ini deh, kita lagi ada acara nih..”, bujuk Tante Ranie.
Aku masih berusaha menolaknya secara halus. Tante Ranie bilang bahwa ada salah seorang temannya yang ulang tahun, dan wanita itu ingin kenal dengan aku. Singkat cerita dengan setengah terpaksa aku mengiyakan ajakan Tante Ranie.
Pada saat Tante Ranie telepon sore tadi, ternyata dia dan beberapa temannya sedang belanja di Plaza Senayan, dari situ mereka berencana ke tempat karaoke di daerah Pluit. Tante Ranie memintaku menunggu di Atrium Senen untuk kemudian wanita itu menjemputku dan langsung ke Pluit. Jam tujuh kurang lima belas aku tiba di Atrium Senen. Aku segera mengontak Tante Ranie. Wanita itu ternyata sedang dalam perjalanan dan sudah sampai daerah Salemba. Kurang lebih lima belas menit kemudian ponselku berbunyi dan Tante Ranie memintaku untuk menunggu di lobi agar dia tidak perlu parkir.
Aku bergegas keluar menuju lobi, dan sampai di lobi aku melihat Tante Ranie melambai ke arahku dari dalam Peugeot 207. Aku segera menghampiri dan masuk ke belakang. Di dalam mobil ada dua wanita lain selain Tante Ranie.
“Hai.. udah lama Yo?” tanya Tante Ranie.
“Lumayan Tante, dua hari..”, kelakarku.
Ketiga wanita itu tertawa renyah.
“Dasar deh.. oya, kenalin ini teman-temenku, yang ini namanya Sita dan yang ini Linda..”, Tante Ranie mengenalkanku pada kedua wanita yang masih asing denganku itu.
Di dalam perjalanan kedua wanita itu cepat akrab denganku. Rupanya Tante Ranie sudah banyak cerita tentang aku. Dan mereka pun tak segan-segan bercerita tentang kehidupannya. Tante Sita yang duduk di sebelahku berusia 35 tahun. Dari wajahnya terlihat kalau ada sedikit darah timur tengah di tubuhnya. Dan ternyata betul, wanita ini memiliki darah Pakistan. Kulitnya yang putih kemerahan saat itu terbalut baju terusan tanpa lengan yang panjangnya sampai menutupi setengah pahanya yang mulus. Buah dadanya tidak terlalu besar, namun pas dengan proporsi tubuhnya yang langsing berisi. Rambut hitamnya yang dipotong pendek memperlihatkan tengkuknya yang putih.
Tante Linda yang berada di belakang kemudi adalah seorang wanita keturunan Chinese seusia Tante Ranie. Wajahnya sangat oriental ditambah kulitnya yang putih susu betul-betul memberi daya tarik sendiri di usianya yang sudah tidak muda lagi. Rambut ikalnya yang dicat coklat muda dibiarkan tergerai setali bra. Payudaranya yang mungkin berukuran 36 C tampak menonjol dengan tubuh rampingnya.
Butuh lebih dari setengah jam untuk sampai ke Pluit karena macet. Setelah memarkir mobil Tante Linda menelpon seseorang. Aku tidak tau apa yang dibicarakan, tapi kelihatannya sekedar konfirmasi bahwa kami sudah ada di tempat. Kemudian kami berempat langsung menuju tempat karaoke yang dimaksud. Aku belum pernah ke tempat ini. Kadang memang aku suka ke karaoke, namun tempat karaoke yang satu ini kayaknya lebih privat. Begitu masuk lobi, Tante Ranie dkk langsung disambut dengan baik oleh resepsionisnya. Kelihatannya Tante Ranie dkk sudah sering ke tempat ini.
“Sundari udah dateng belum?” tanya Tante Ranie pada resepsionis itu.
“Udah, katanya udah ditunggu dari tadi.” jawab si resepsionis.
Kemudian kami berempat langsung menuju ruangan yang ditunjuk si resepsionis.
“Haaii.. happy birthday..”.
Ketiga wanita tersebut berteriak-teriak ribut begitu memasuki ruangan karaoke. Di dalam ada seorang wanita yang disebut-sebut Sundari tadi. Wanita itu tampak ceria sekali menyambut kedatangan teman-temannya. Usianya mungkin sebaya Tante Ranie. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit yang putih mulus. Wajahnya imut sekali untuk ukuran Ibu-Ibu seusianya. Rambut coklatnya yang dipotong pendek sebahu disisir rapi ke belakang. Baju terusan warna perak yang dikenakannya semakin membuat wanita itu terlihat elegan.
“Rio, kenalin nih.. yang punya acara.” seru Tante Ranie kepadaku.
Aku tersenyum menghampiri Tante Sundari yang duduk di sofa. Wanita itu tersenyum manis sekali. Aku menyalami tangannya yang halus dan lembut.
“Oo.. ini yang namanya Rio..”, serunya.
Aku tersenyum.
“Iya, kan tadi katanya Tante pengen aku dateng..”, aku sedikit menggodanya.
Tidak kusangka wajah Tante Sundari bersemu merah. Ketiga temannya tertawa menggoda wanita itu. Suasana pun tiba-tiba menjadi cair dan akrab sekali. Tante Ranie, Tante Sita dan Tante Linda tak henti-hentinya menggoda Tante Sundari, seperti anak ABG yang main jodoh-jodohan.
Suasana tiba-tiba “dirusak” oleh pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka.
“Hai.. hai.. hai.. sori ya kelamaan tadi aku.. ups..”, tiba-tiba masuk seorang wanita yang juga sebaya mereka sambil menjinjing dua kardus berukuran sedang, sambil berteriak-teriak.
Namun teriakannya berhenti begitu melihat ada aku. Mungkin dia pikir siapa orang asing ini.
“Makanya kalo masuk ketok dulu dong..”, seru Tante Linda sambil tertawa.
Wanita yang baru masuk itu masih tampak kebingungan.
“Ini lho Rio yang tadi kita bilang bakal ikutan party bareng kita. Kan kamu sendiri yang bilang nggak seru kalo full ladies party”, Tante Ranie mencoba menjelaskan.
Wanita itu tiba-tiba tersenyum seraya menghampiriku, dan mengulurkan tangannya.
“Bilang dong dari tadi.. bikin aku kaget aja, kirain mata-matanya si gendut..”, keempat wanita itu terbahak-bahak mendengar jawaban si wanita yang baru masuk.
Ternyata yang dimaksud si gendut adalah suaminya. Wanita itu menyalamiku dengan ramah. Namanya Rena. Tante Rena satu-satunya yang berbeda di antara wanita-wanita yang ada di situ. Tingginya sekitar 168 dengan berat yang proporsional. Rambutnya hitam legam panjang terurai hampir sepinggang dengan potongan lancip dan ngetrap. Yang paling membedakan adalah warna kulitnya yang hitam seperti orang-orang Afrika. Dan meskipun make up yang dikenakannya agak aneh menurutku (bayangkan saja dengan kulit yang hitam legam dia pakai lipstik warna hitam), namun terlihat pantas dan cantik.
Acara pun dimulai. Ruangan itu jauh lebih besar dibandinga ruangan-ruangan karaoke yang pernah aku datangi. Mungkin besarnya sebesar kamar hotel ukuran family room. Sebuah wide screen 50 inci terpampang di salah satu sudut. Di seberangnya ada sebuah sofa besar berbentuk setengah lingkaran tempat dimana kami duduk. Di tengah sofa ada meja yang cukup besar dengan beberapa katalog lagu dan mikrofon di atasnya.
Acara dimulai dengan memilih lagu Happy Birthday pada mesin pemilih lagu. Tante Rena membuka kardus yang tadi dibawanya. Ternyata isinya kue ulang tahun berukuran mini. Tante Ranie dan Tante Sita membantu memasang lilin di atasnya. Sedang Tante Linda menyiapkan pemantik api untuk menyalakan lilin tersebut. Tante Rena juga mengeluarkan beberapa botol minuman yang dibawanya. Aku tidak tau itu minuman apa tapi sepertinya yang jelas minuman beralkohol.
Keempat wanita tersebut dan aku mulai menyanyikan lagu Happy Birthday mengikuti lagu yang dimainkan di layar wide screen. Meski cuma berenam namun terasa meriah dan aku bisa merasakan kebersamaan mereka sebagai sahabat Tante Sundari. Tante Sundari yang berulang tahun terlihat tersenyum bahagia. Dan ketika lagu selesai wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya terlihat menggenang dan beberapa tetes air mulai turun dari ujung matanya.
“Aduuhh.. thanx banget ya.. Kamu semua tuh emang teman-teman aku yang paling top deh..”, Tante Sundari memeluk dan mencium pipi mereka satu persatu. Begitu juga dengan aku.
“Thanx ya Yo, meskipun belum kenal kamu mau dateng ke sini.. mmuaachh..”, Tante Sundari mencium pipiku.
Aku balas mencium pipinya seperti dilakukan keempat sahabatnya.
“Sama-sama Tante, aku juga seneng bisa punya teman baru..”, jawabku.
“Ayo dong, sekarang tiup lilinnya..”, seru Tante Sita seperti nggak sabar.
Tante Sundari tersenyum. Kemudian wanita cantik itu meniup lilin berjumlah 36 buah yang tertancap di atas kue. Kami yang lain pun bertepuk tangan.
Acara berikutnya makan kue ulang tahun sambil berkaraoke. Masing-masing menyumbang satu lagu untuk Tante Sundari. Secara bergiliran kami bernyanyi. Kadang kala berduet. Sementara yang tidak bernyanyi asyik menikmati kue ulang tahun dan minuman. Ternyata betul yang dibawa Tante Rena tadi minuman beralkohol. Aku nggak tau jenis-jenisnya karena aku memang tidak suka minum. Tante Sundari rupanya memperhatikan hal itu.
“Rio kok kamu nggak minum-minum sih dari tadi?” tanyanya seraya merangkul pundakku. Aku tersenyum.
“Nggak Tante, aku nggak suka minum..”, jawabku. Tante Sundari menunjukkan wajah cemberut yang dibuat manja.
“Kenapa? Gitu ya sama aku..”, rajuknya. Aku tertawa.
“Aduh sori Tante, bukannya aku nggak hargain Tante, tapi emang nggak doyan..”, jawabku lagi.
“Uuhh.. dasar, ya udah kamu pesen minuman lain gih di luar, tapi ada hukumannya lho.” ujar Tante Sundari sambil bergelayut di bahuku.
“Hukumannya apa Tante?” tanyaku penasaran.
“Kamu nyanyi bareng aku ya..”, pintanya.
Aku tersenyum sambil mengiyakan. Yang lain pun setuju. Kami pun nyanyi bareng.
Jam sudah menunjukkan jam sembilan lewat. Suasana mulai tidak terkontrol. Kelima wanita yang mulai mabuk itu mulai bernyanyi-nyanyi dengan ngaco. Aku sendiri heran melihat mereka yang sejak tadi minum alkohol seperti minum air mineral saja. Entah sudah berapa botol yang dihabiskan. Suara mereka yang tadinya cukup bagus mulai fals dan liriknya pun ngelantur. Yang ada hanya suara tawa dan teriak-teriakan.
Lebih parah lagi mereka mulai memilih lagu-lagu dari katalog berlabel “Adult”. Dan aku baru tahu bahwa di katalog itu semua lagu ditampilkan dengan videoklip yang full pornografi. Mulai dari tarian-tarian telanjang sampai adegan persetubuhan. Kebanyakan isinya memang lagu-lagu disco. Dan kelima wanita itu mulai kehilangan rasa sungkannya, termasuk Tante Sundari yang awalnya terlihat malu-malu. Dengan cueknya mereka bernyanyi sambil berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tak jarang mereka sampai naik ke atas meja sambil menari-nari erotis. Kadang mereka pun menggodaku dengan memperlihatkan sebagian sex appealnya. Birahiku pun mulai naik. Namun aku masih belum berani berbuat apa-apa. Aku masih berpikir bahwa ini hanyalah pesta ulang tahun.
Dugaanku benar. Kegilaan itu berakhir dengan cukup wajar. Mereka mulai capek, atau lebih tepatnya bosan. tak terasa sudah hampir jam sebelas. Aku melihat mereka berkemas-kemas. Huh.. akhirnya aku bisa pulang. Bukannya aku tidak menikmati acara mereka, tapi masalahnya besok adalah hari kerja. Nggak lucu kan kalau sampai ngantuk di kantor. Namun dugaanku meleset. Dari tempat karaoke acara berlanjut di rumah Tante Sundari. Aku setengah mati mencari alasan untuk menolak, namun bujukan dan rayuan kelima wanita itu membuatku tak kuasa menolaknya. Singkat cerita aku pun “terjebak”, dalam Peugeot 207 Tante Linda menuju rumah Tante Sundari di daerah Muara Karang. Aku nggak tau acara apa lagi yang akan digelar. Paling aku bengong melihat mereka mabuk lagi.
Sampai di rumah Tante Sundari, kami langsung diajak ke living room yang cukup besar. Di living room itu ada satu set home theater yang di temani bantal-bantal berukuran besar. Kelima wanita yang sudah setengah mabuk itu dengan enaknya duduk dan tiduran di living room itu.
“Ren, masih pengen goyang nih..”, seru Tante Rena.
“Sabar dong Bu, ini juga lagi disiapin..”, jawab Tante Sundari sambil mempersiapkan sesuatu dengan DVD-nya.
Dan lagi-lagi sajian yang tadi kulihat di tempat karaoke terulang lagi. Rentetan videoklip dengan aneka adegan seks diiringi musik-musik disco yang menghentak. Bagai kena sihir kelima wanita yang sudah setengah mabuk dan kupikir sudah kehabisan tenaga itu kembali “on”, dan asyik bergoyang erotis tak karuan.
Setelah puas bergoyang, mereka kembali tergeletak di lantai berlapis karpet tebal itu. Tiba-tiba Tante Sundari bergegas ke arah dapur. Tak lama kemudian wanita itu kembali ke living room, lagi-lagi dengan botol-botol minuman beralkohol. Keempat sahabatnya dengan buas langsung menyambar botol-botol minuman itu seperti serigala kelaparan. Lagi-lagi aku geleng-geleng melihat mereka yang minum air-air api itu seperti minum air putih saja. Lama-lama aku bete juga meski pada awalnya aku senang karena bisa menikmati tarian erotis mereka.
“Hello ladies.. mau ngapain lagi nih, aku bosen..”, seruku tiba-tiba.
“Iya nih.. ngapain ya yang asyik..”, timpal Tante Linda.
“Aha.. gue tau, main truth or dare aja yuk..”, usul Tante Rena.
Keempat wanita yang lain langsung bersorak ribut tanda setuju. Jantungku tiba-tiba berdebar. Aku belum pernah main truth or dare sebelumnya.
“Oke.. oke.. bentar ya..”, seru Tante Sundari sambil berjalan ke arah kamarnya.
Tak lama wanita cantik itu keluar dengan membawa satu Pak kartu remi. Dengan jujur aku bilang pada mereka bahwa aku belum pernah main truth or dare. Mereka tertawa terbahak-bahak seolah mencibir aku.
“Sini Yo, aku ajarin..”, kata Tante Rena.
Tante Rena pun menjelaskan. Ternyata seperti permainan lucky draw. Dalam satu Pak kartu itu ada 2 joker. Joker hitam putih berarti kartu “truth”, dan joker berwarna berarti kartu “dare”. Kartu-kartu itu dibagikan ke semua pemain dengan jumlah tertentu. Jika ada pemain yang mendapatkan kartu “truth”, maka dia harus menceritakan salah satu pengalaman seksnya dengan detil. Dan jika si pemain mendapat kartu “dare”, maka dia harus bersedia melepas salah satu atribut yang melekat di tubuhnya, bisa pakaian atau aksesoris. Itu permainan truth or dare versi Tante Rena. Aku tidak tau apakah sama dengan permainan truth or dare pada umumnya.
Permainan pun dimulai. Kami berenam duduk membentuk lingkaran. Kelima wanita itu ditemani botol-botol minumannya, hanya aku saja yang ditemani segelas orange juice. Tante Rena yang pertama kali mengocok kartu membagikan kepada kami. Aku melihat kartu-kartu yang dibagikan kepadaku. Jantungku semakin berdebar.
Kami semua mengangkat kartu dan memeriksanya. Semuanya senyum-senyum sendiri.
“Oke, buka!” seru Tante Rena.
Kami pun langsung meletakkan kartu di atas lantai dalam keadaan terbuka. Tante Rena memeriksa kartu-kartu kami. Ternyata tidak ada satupun yang mendapat kartu “truth”, atau kartu “dare”. Permainan diulang lagi. Kartu dikocok dan dibagikan.
“Oh.. shit..!” tiba-tiba Tante Sita berteriak. Kami pun mulai tertawa-tawa.
“Oke buka!” seru Tante Rena lagi.
Dan betul, Tante Sita kebagian mendapat kartu “dare”. Artinya wanita itu harus melepas salah satu atribut yang melekat di tubuhnya. Dan karena satu-satunya pakaian luar yang dikenakan adalah gaun terusan, aku pikir wanita itu akan melepas gaunnya atau perhiasan yang melingkari bagian-bagian tubuhnya. Namun dalam keadaan mabuk rasanya mustahil kalau Tante Sita hanya berani melepas perhiasannya.
Dugaanku meleset! Tante Sita tidak melepas gaun terusannya, dan tidak juga perhiasannya. Lebih gila dari yang kuduga, wanita itu langsung melepas celana dalamnya yang dapat dicopotnya dengan mudah dari bawah terusannya.
“Woowww..”, keempat wanita yang lain bersorak dan bertepuk tangan.
Aku pun ikut bertepuk tangan. Permainan pun berlanjut. Karena memegang kartu “dare”, otomatis Tante Sita juga yang mengocok kartunya. Putaran kedua, Tante Rena mendapat kartu “truth”, dan Tante Sundari mendapat kartu “dare”. Tante Rena pun bercerita tentang perselingkuhannya dengan salah seorang eksekutif muda yang dikenalnya di kafe. Ternyata Tante Rena pandai sekali bercerita dengan detil. Kami sampai horny mendengarnya. Setelah selesai bercerita, giliran Tante Sundari yang harus melepas atributnya. Wanita itu melepas stocking semi transparan yang sejak tadi membungkus kakinya. Gila, ternyata kakinya lebih putih dari yang kulihat. Aku tak menyangka kalau tadi Tante Sundari mengenakan stocking, karena kulihat paha Tante Sundari sudah putih.
Putaran berikut hanya keluar kartu “truth”. Tante Ranie yang mendapat kartu tersebut malah bercerita saat berselingkuh dengan aku. Lucu sekali, keempat sahabatnya mendengar cerita Tante Ranie sambil sesekali senyum-senyum dan melirik ke arahku. Berikutnya aku mendapat kartu “dare”, dan Tante Sita mendapat kartu “truth”. Tante Sita pun bercerita tentang pengalaman selingkuhnya dengan kakak iparnya yang masih keturunan Pakistan asli. Selesai tante Sita bercerita, aku pun tanpa beban melepas kemeja yang melekat di tubuhku diiringi sorakan kelima wanita itu. Selanjutnya Tante Rena mendapat kartu “dare”. Wanita itu melepas celana suteranya hingga terlihat kakinya yang hitam legam, namun mulus.
Permainan bergulir terus. Satu persatu pakaian-pakaian yang melekat di tubuh kami mulai terlepas. Dan aku heran kenapa tak satupun dari mereka yang melepas perhiasannya. Mereka lebih rela melepas pakaiannya ketimbang mencopot gelang emasnya.
Tante Linda yang lebih dulu tampil tanpa sehelai benang pun. Birahiku semakin naik ketika menyaksikan wanita bertubuh putih mulus itu melepas celana dalamnya yang menjadi pembungkus tubuhnya yang terakhir. Gila, betul-betul mulus. Meskipun terlihat sedikit lemak di beberapa bagian namun secara keseluruhan betul-betul membuat gairahku naik.
Orang kedua yang “terpaksa”, tampil bugil adalah Tante Sita. Wanita ini sedikit aneh karena sejak awal malah melepas pakaian dalamnya lebih dulu. Sehingga begitu wanita ini melepas gaun terusannya, tubuh mulusnya langsung terlihat jelas. Dan aku terkejut sekali melihat sesuatu yang berkilat di tengah-tengah kemaluannya yang hanya berbulu sedikit itu. Ooppss.. ternyata Tante Sita memasang anting di bibir kemaluannya. Berikutnya yang jadi korban adalah Tante Rena. Baru kali ini aku melihat wanita berkulit hitam legam dalam keadaan telanjang bulat di depan mataku. Ternyata sexy juga. Apalagi tubuh Tante Rena sangat mulus dan terawat.
Permainan selesai ketika Tante Sita tidak memiliki apa-apa lagi untuk dilepas. Aksesoris yang melekat di tubuh bugilnya satu persatu pun lepas. Permainan pun selesai.
“Asyiikk.. aku yang menang..”, seru Tante Ranie kegirangan.
Di akhir permainan hanya wanita itu yang masih berpakaian cukup “lengkap”. Bra, celana dalam dan stocking hitam masih melekat di tubuhnya yang putih mulus. Aku sendiri hanya menyisakan selembar celana dalam. Tante Sundari juga hanya bercelana dalam saja, sementara payudaranya yang masih bulat dan montok itu terayun-ayun sejak tadi.
“Uuuhh.. dasar, curang ah.. curang..”, seru Tante Sita sambil merajuk.
“Iya nih nggak adil, ayo buka semuanya..”, timpal Tante Linda.
Tiba-tiba ketiga wanita yang sudah bugil itu menghampiri Tante Ranie.
“Ehh.. ehh.. apa-apaan nih, curang ah..”, seru Tante Ranie.
Wanita itu kelabakan ketika Tante Linda, Tante Sita dan Tante Rena mengepung dan menelanjanginya. Aku dan Tante Sundari tertawa menyaksikan pemandangan itu. Tante Ranie sampai merangkak-rangkak menghindari Tante Linda yang bernafsu menangkapnya. Tante Rena yang mendekapnya dari belakang dengan mudah melepas bra yang menutup payudara Tante Ranie. Sementara Tante Sita berusaha menarik celana dalam yang melingkari selangkangan Tante Ranie.
Akhirnya wanita itu tak kuasa menahan “amukan”, ketiga sahabatnya. Dalam waktu singkat, kondisinya pun tak jauh beda dengan ketiga temannya yang lebih dulu bugil. Aku dan Tante Sundari sampai sakit perut karena tertawa terpingkal-pingkal.
“Eit.. jangan seneng dulu, sekarang giliran kalian..”, seruan Tante Linda tiba-tiba menghentikan tawaku dan Tante Sundari. Kami berdua saling berpandangan.
“Kabur..!” seruku.
Kemudian kami berdua pun berlari berpencar. Tante Sundari masuk ke dalam kamarnya dan aku lari ke ruang tamu. Tante Ranie dan Tante Rena mengejar tante Sundari ke dalam kamar, sedangkan Tante Linda dan Tante Sita mengejarku ke ruang tamu.
Setelah berkali-kali muter-muter di meja tamu, akhirnya aku pasrah di salah satu sudut sofa. Setengah meronta, aku merelakan Tante Sita meloroti celana dalamku, sementara Tante Linda memegangin kedua tanganku. Aku pun mendengara suara teriakan-teriakan yang seru dari dalam kamar Tante Sundari.
Tante Sita dan Tante Linda lantas menggeretku ke dalam kamar Tante Sundari. Di dalam aku melihat tubuh molek Tante Sundari yang tergeletak pasrah di atas ranjang dengan kedua tangannya dipegangi Tante Ranie dan Tante Rena. Tante Sita dan Tante Linda lantas menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Mereka tertawa-tawa.
“Nah kalo gini kan adil hihihihi..”, seru Tante Linda.
Aku tak ingat siapa yang memulai yang jelas detik berikutnya canda tawa itu berubah menjadi ajang pesta orgy di antara kami.
Tante Sita memeluk tubuhku yang tergeletak di ranjang. Kemudian dengan penuh nafsu wanita itu langsung melumat bibirku tanpa kompromi. Sementara di bawah sana aku merasakan basahnya lidah Tante Linda dan Tante Sundari yang asyik menjilati batang penisku yang sudah tegang sejak tadi. Ugghh.. nikmat sekali.
Sambil berciuman, aku melirik Tante Ranie dan Tante Rena yang asyik berduaan. Tante Ranie yang bersandar di ranjang membiarkan kemaluannya dilumat Tante Rena. Aku melihat pemandangan itu dengan penuh nafsu. Sementara Tante Sita sudah asyik menjilati leher, telinga dan dadaku. Nafsu yang semakin memuncak menuntunku untuk meraih tangan Tante Ranie yang mulus itu. Aku jilati jemarinya yang lentik. Tante Ranie yang mengetahui hal itu langsung membalikkan tubuhnya ke arahku dan kami pun asyik berciuman.
“Mmmhh.. ssllpp.. mmhh.. nggak nyesel kan ikutan sama kita-kita hihihi.. mm..”, seru Tante Ranie di sela-sela lumatan bibirnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Kulihat Tante Rena masih asyik menjelajahi daerah sensitif Tante Ranie.
Tiba-tiba Tante Sundari meninggalkan Tante Linda yang sedang asyik melumat penisku. Kulirik wanita itu keluar kamar. Tak lama kemudian Tante Sundari kembali dengan beberapa sex toy. Keempat wanita yang sedang asyik orgy denganku tiba-tiba beralih perhatian kepada Tante Sundari.
“Hei.. hei.. liat nih aku bawa apa..”, seru Tante Sundari.
Keempat sahabatnya menyambut dengan penuh nafsu.
“Aahh.. ini dia yang ditunggu-tunggu..”, mereka bersorak ribut sekali.
Tante Sundari langsung menghamparkan alat-alat itu di atas ranjang. Aku melihat ada beberapa vibrator dengan berbagai bentuk, berikut dengan cairan pelicinnya. Ada juga alat yang baru kali ini aku lihat. Seutas tali yang panjangnya kira-kira setengah meter, dan di sepanjang tali itu ada beberapa bola kecil dari bahan gel padat tersusun dengan jarak yang sama. Ada yang bolanya sebesar kelereng, dan ada juga yang bolanya sebesar bola golf. Di ujung tali ada kotak seukuran pemantik api dengan beberapa tombol kecil. Aku sama sekali tidak mengerti apa gunanya.
Kelima wanita itu berebutan memilih alat yang mereka suka. Tante Ranie mengambil sebuah vibrator dengan warna pink transparan. Panjangnya kira-kira 20 centimeter. Lentur sekali sehingga bisa melenting ke segala arah. Kemudian dengan gaya yang erotis dan dibuat-buat, Tante Ranie mengambil sebotol cairan pelicin dan meneteskannya ke ujung vibrator itu. Terlihat cairan itu menjalar ke beberapa bagian vibrator.
“Heii.. who wants to be the first..”, serunya kepada keempat sahabatnya.
Tante Sundari yang paling antusias.
“Aahh.. aku dulu dong..”, seru Tante Sundari.
Wanita itu lantas merebahkan tubuh mulusnya di atas ranjang dengan posisi telentang, sementara kedua kakinya yang putih dibukanya lebah-lebar. Sambil tersenyum Tante Ranie menghampiri memek Tante Sundari yang hanya ditumbuhi sedikit bulu itu.
“Hmm.. vibratornya sih udah licin, tapi pasti lebih asyik kalo pake pelicin yang alami.. mmhh.. ssllpp..”, Tante Ranie langsung menjilati memek Tante Sundari dengan buas.
Yang dijilat spontan terkejut. Tubuhnya mulai menggelinjang menahan rasa nikmat.
Tante Rena yang berada tak jauh dari Tante Sundari mengambil sehelai bulu angsa, kemudian digelitiknya tubuh Tante Sundari dengan bulu itu. Tentu saja Tante Sundari semakin kelojotan.
“Ssshh.. aahh.. oohh kamu gila ya La.. sshh..”, bibir sexynya tak henti-henti mengerang menahan nikmat.
Tante Rena yang melihat bibir Tante Sundari terbuka langsung melumatnya dengan bibirnya yang masih tersapu lipstik warna gelap itu. Uhh.. betul-betul pemandangan yang membuat urat nafsuku semakin naik.
Tiba-tiba Tante Sita mengambil seutas tali yang diselingi butiran-butiran yang kulihat tadi. Aku jadi penasaran, gimana sih menggunakan alat yang ini. Tante Sita kemudian mengangkat sebelah kaki Tante Rena. Wanita berkulit hitam itu melirik sebentar dan tersenyum.
“Oowww.. not that toy again Shin..”, serunya manja.
Tante Sita tak peduli. Dibasahinya tali berbutir itu dengan cairan pelicin, kemudian satu demi satu Tante Sita memasukkan butiran-butiran sebesar bola golf itu ke dalam memek Tante Rena.
“Ughh..”, desah Tante Rena setiap kali butiran itu dimasukkan ke dalam memeknya.
Setelah seluruh butiran yang berbaris di tali itu masuk ke dalam memek Tante Rena, Tante Sita mulai memainkan tombol-tombol yang ada di ujungnya.
“Aaahh.. Sitaa.. sshh..”, tiba-tiba Tante Rena menggelinjang cukup hebat.
Keempat sahabatnya cekikikan melihat reaksinya, termasuk Tante Sundari yang sedang dioral oleh Tante Ranie. Aku baru mengerti cara kerja alat itu. Tante Sita tampak asyik sekali ngejain Tante Rena. Aku pun mulai tak tahan untuk ikut bergabung. Tante Sita yang asyik ngerjain Tante Rena tampaknya agak “lengah”, dengan tubuhnya. Dengan birahi yang sudah ke ubun-ubun, aku langsung memeluk kedua belah paha Tante Sita yang mulus, dan langsung menyambar memek yang masih rapat itu dengan lidahku.
Tante Sita hanya menengok sejenak dan mengusap-usap kepalaku sambil tersenyum. Kemudian wanita itu asyik lagi dengan permainannya. Aku semakin bernafsu melumat memek Tante Sita yang kenyal itu. Ughh.. betul-betul nikmat. Sementara Tante Linda yang sedari tadi berada di dekatku mulai merayapi pahaku. Ahh.. lembut sekali kulitnya. Aku bisa merasakannya di sekujur kakiku. Hingga akhirnya wanita keturunan Chinese itu menggenggam batang penisku yang sudah sejak tadi tegang. Dijilatinya buah pelirku. Hmm.. lidah Tante Linda betul-betul lihay.
Sesekali kulirik Tante Rena yang kelojotan setiap kali butiran sebesar bola golf itu dikeluarkan dari liang kewanitaannya. Atau wajah Tante Sundari yang tak henti-hentinya mengerang menahan rasa nikmat yang luar biasa. Kelihatannya Tante Ranie lihai sekali memainkan vibrator tersebut. Kulihat daerah selangkangan Tante Sundari sudah banjir oleh air kewanitaannya. Kami betul-betul bercampur tanpa batas. Dan satu-satunya yang sadar di ruangan itu hanya aku, sisanya sudah mabuk oleh minuman-minuman yang mereka tegak sejak tadi.
Aku tidak bisa bercerita dengan detil di sini karena betul-betul banyak hal dan variasi yang kami lakukan. Mungkin aku hanya bisa cerita hal-hal yang kuingat dengan jelas. Seperti misalnya ketika kedua tangan Tante Ranie dipegangi oleh Tante Rena dan Tante Sundari, sementara Tante Sita dan Tante Linda asyik ngerjain wanita cantik itu dengan tali-tali berbutirnya. Tante Sita memegang tali berbutir yang butirannya sebesar bola golf, sementara Tante Linda memegang tali berbutir yang lebih kecil. Aku sendiri dengan liar menjilati setiap jengkal tubuh Tante Ranie. Desahan dan erangan tak henti-hentinya keluar dari bibir wanita itu.
Seperti yang dilakukan pada Tante Rena tadi, Tante Sita memasukkan satu demi satu butiran-butiran sebesar bola golf itu ke dalam memek Tante Ranie dan kemudian menyalakan penggetarnya. Pada saat yang sama juga Tante Linda memasukkan butiran-butiran yang hanya sebesar kelereng itu ke dalam lubang pantat Tante Linda, dan kemudian menggetarkannya. Uhh.. aku tidak bisa membayangkan rasa nikmat yang dialami Tante Ranie. Pasti asyik sekali. Tubuhnya betul-betul menggelinjang, aku saja sampai kerepotan menjilatinya.
“Aaakhh.. pada gila ya.. oohh stop.. please.. stop.. cukup.. uugghh..”, Tante Ranie terus mengerang keasyikan, namun kami tidak perduli. Dan kulihat memek Tante Ranie betul-betul membanjir.
“Uuuhh.. banjiirr boo”” seru kelima wanita itu.
Mereka bersorak ribut sekali. Pada saat itu aku sendiri juga tidak merasa sebagai laki-laki yang melayani nafsu seks lima wanita itu. Entah kenapa aku juga merasa menjadi bagian dari mereka, seolah-olah aku wanita yang ikut dalam pesta lesbian.
Tante Ranie betul-betul lemas. Entah berapa banyak cairan yang keluar dari memeknya. Yang aku ingat keempat sahabatnya dan aku betul-betul liar menjilati cairan yang terus menerus keluar dari memek Tante Ranie. Bahkan kami sampai bertukar-tukar, seperti misalnya aku sudah mengulum cairan yang kujilati dari memek Tante Ranie, kemudian aku membagikannya ke dalam mulut Tante Sundari lewat mulutku. Demikian juga yang lain. Betul-betul gila.
Ternyata yang “dipelonco”, bukan hanya Tante Ranie. Kesempatan berikutnya giliran Tante Rena yang diperlakukan sama. Dan gilanya Tante Ranie setelah lemas dipelonco tadi seperti tidak ada apa-apa saja. Wanita itu kembali bernafsu ikut ngerjain Tante Rena. Uhh.. wanita berkulit hitam itu betul-betul meronta seperti kesetanan. Apalagi ketika tali berbutir digetarkan di dalam memeknya. Ranjang Tante Sundari sampai goyang-goyang tak karuan.
Berikutnya giliran Tante Linda. Wanita yang pada awalnya terlihat sok cool ini akhirnya tak kuasa juga melepas rasa nikmatnya dengan menjerit keras-keras. Selama mengikuti permainan mereka sejak tadi entah kenapa aku sama sekali tidak berhasrat memasukkan penisku ke dalam memek salah satu dari mereka. Bahkan untuk melakukan masturbasi di depan mereka juga tidak. Aku seperti hanyut dalam permainan.
Kemudian pada saat giliran Tante Sita, wanita-wanita itu seperti mendendam. Tante Sita yang dikerjain paling lama dan semua alat digunakan kepada wanita itu. Dimulai dengan vibrator biasa, kemudian tali berbutir, dan lain-lain sampai terakhir vibrator elektrik. memek Tante Sita betul-betul banjir. Huh.. baru kali ini aku melihat wanita-wanita mengalami multi orgasme sampai separah itu.
Berikutnya giliran Tante Sundari. Wanita ini mendapat perlakuan spesial sebagai hadiah ulang tahunnya. Tidak hanya dikerjain seperti nasib sahabat-sahabatnya, tapi Tante Sundari juga melakukan “persetubuhan”, dengan keempat wanita yang lain. Aku pikir inilah saatnya aku menikmati permainan yang sesungguhnya.
Dimulai dari Tante Rena yang mengenakan celana dalam yang di bagian depannya ada vibratornya. Kami duduk mengelilingi Tante Rena dan Tante Sundari yang “bersetubuh”, seperti pasangan normal saja. Berikutnya gantian Tante Sita, Tante Linda dan Tante Ranie. Akhirnya tiba juga giliranku untuk menikmati hangatnya memek. Sambil berdiri dengan lutut, aku bersiap memasukkan batang penisku yang sudah keras itu ke dalam memek Tante Sundari.
Tiba-tiba dari arah belakang Tante Ranie menarik tubuhku sebelum aku sempat memasukkan batang penisku ke memek Tante Sundari.
“Ehh.. kenapa Tante..”, seruku.
Tante Ranie tertawa nakal diiringi cekikikan wanita yang lain. Tiba-tiba dengan sigap kelima wanita itu mengepungku dan dalam waktu singkat aku sudah terpasung di atas ranjang dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. Oh.. gila, apalagi ini.
Kemudian Tante Sundari menghampiriku.
“Kayaknya kamu perlu ini deh sayang biar kamu bisa ngimbangin kita-kita.. hihihi.. mmhh..”, Tante Sundari tiba-tiba mencium bibirku dan aku merasakan wanita itu memindahkan beberapa butir pil dari dalam mulutnya ke mulutku.
Mau tak mau aku menelan pil yang aku tidak tau pil apa itu.
“Apa nih Tante?” seruku setelah pil yang kira-kira berjumlah lima butir itu kutelan. Tante Sundari tersenyum.
“Obat kuat hihihi..”, jawabnya.
“Eh siapa duluan nih?” seru Tante Ranie tiba-tiba.
“Kasi yang ultah aja dulu, kan Rio udah minum itu, pasti staminanya gak turun deh hihihi..”, celetuk Tante Linda.
Keempat sahabatnya setuju. Kelihatannya Kelima wanita itu ingin menggilir penisku bergantian. Ughh.. aku sedikit nggak pede, apa iya aku mampu. Sekarang aja rasanya udah mau orgasme sejak bergumul dengan mereka tadi. Tapi mungkin pil yang disuapkan Tante Sundari tadi bisa membantu.
Tante Sundari kemudian mulai menjilati batang penisku yang sudah keras. Mungkin ukurannya sudah mencapai maksimal Urat-uratnya sudah mulai kelihatan. Sebetulnya penisku berukuran biasa saja. Entah kenapa mata Tante Sundari betul-betul bernafsu sekali melihatnya. Lidahnya lincah sekali menjelajahi penis dan selangkanganku. Keempat wanita yang lain duduk mengelilingi sambil bersorak.
Setelah puas menjilati dan mengulum penisku, kemudian wanita itu mulai jongkok di atas tubuhku. Digenggamnya batang penisku dan perlahan-lahan tubuhnya mulai turun. Ughh.. aku merasakan nikmat ketika ujung penisku menyentuh bibir memek Tante Sundari. Sedikit demi sedikit dan akhirnya.. bless.. penisku pun amblas ke dalam memek Tante Sundari. Wanita itu memutar-mutar pinggulnya. Alamak.. nikmatnya luar biasa. Seharusnya penisku sudah memuntahkan sperma sejak Tante Sundari memasukkan memeknya tadi, namun entah kenapa spermaku tak kunjung keluar. Padahal penisku sudah berdenyut-denyut. Hampir dua puluh menit Tante Sundari menggoyangkan pinggul, pinggang dan pantatnya. Dengan posisi duduk, tiduran, hingga akhirnya aku mulai merasa spermaku ingin keluar.
“Ssshh.. aahh Tante.. udah mau keluar nih..”, seruku di tengah-tengah desahan menahan rasa nikmat.
Tante Sundari tersenyum manja. Wanita itu sudah sejak tadi orgasme berkali-kali di atas tubuhku.
“Ya udah, bareng ya.. sshh..”, aku betul-betul memuncak. Sebentar lagi aku merasa akan meledak.
Tiba-tiba Tante Linda menghampiri kami dan berjongkok di belakang tubuh Tante Sundari yang sedang naik turun. Aku nggak tau apa yang diperbuatnya. Sekilas kulihat Tante Sundari tersenyum dan Tante Linda memeluknya dari belakang. Kulihat payudara Tante Sundari yang montok itu diremas-remas. Ahh.. pemandangan itu semakin membuat nafsuku naik.
“Riioo.. I”m cumming.. sshh.. oohh..”, Tante Sundari pun mencapai orgasme untuk kesekian kali. Dan cairan kewanitaan yang membanjiri penisku pun memacu spermaku untuk keluar.
“Aahh.. Croott.. crroott.. croott.. ups!”
Belum selesai penisku memuntahkan seluruh sperma, tiba-tiba Tante Sundari mencabut penisku dari memeknya, lantas wanita itu berguling ke samping. Tanpa kuduga Tante Linda yang tadi berada di belakang Tante Sundari langsung maju dan menindihku sehingga penisku langsung amblas dalam sekejap ke dalam liang memeknya. Croott.. croott.. penisku masih memuntahkan sperma sisa permainanku dengan Tante Sundari.
Gila, variasi apalagi ini! Bagai Tanpa peduli Tante Linda melanjutkan permainan. Wanita itu memutar pinggang dan pinggulnya kesana kemari. Ugghh.. satu hal yang bikin aku heran penisku masih bertahan. Meskipun sperma sudah tidak keluar lagi tapi tidak langsung lemas seperti biasanya. Dan birahiku pun semakin terbakar melihat tubuh putih mulus yang bergoyang di atas tubuhku.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian penisku kembali berdenyut ingin memuntahkan sperma. Dan sudah sejak lima menit yang lalu di belakang Tante Linda ada Tante Rena yang bersiap untuk giliran berikutnya. Aku sengaja tidak bilang supaya Tante Linda tidak buru-buru pergi, karena dari kelima wanita itu Tante Lindalah yang paling aku suka. Tanpa kuduga Tante Linda sudah bisa menebak gejalaku. Baru semprotan sperma yang pertama wanita Chinese itu langsung mencabut tubuhnya dan berguling ke samping. Dengan penuh nafsu Tante Rena langsung menggantikan Tante Linda.
Aku cukup lama melayani Tante Rena karena aku kurang begitu bergairah dengannya. Hampir satu jam penisku baru mulai berdenyut tanda sperma akan keluar. Dan di belakang Tante Rena, Tante Ranie sudah bersiap untuk memacu birahi denganku.
Crott.. Croott.. Dua semprotan awal menyudahi permainanku dengan Tante Rena, dan Tante Ranie pun menggantikan untuk menikmati sisa spermaku. Tante Ranie masih seperti dulu, lihai sekali merangsang bagian-bagian sensitifku. Sambil tubuhnya bergoyang, jemari lentiknya aktif menjelajahi tubuhku.
Menjelang menit ke tiga puluh dengan Tante Ranie, Tante Sita naik ke atas tubuhku tapi tidak di belakang Tante Ranie, melainkan di depannya. Jadi posisi mereka berhadapan. Aku tak tau apa yang dilakukannya. Aku hanya mendengar suara berciuman yang penuh nafsu.
“Crott.. Croott.. Crroott.. Croott..”
Tante Ranie kebablasan. Setelah semburan keempat wanita itu baru mengangkat tubuhnya. Itu karena Tante Sita yang asyik menggodanya. Tante Sita dengan sigap langsung memasukkan penisku yang masih menyemprot itu ke dalam memeknya. Posisinya berbeda dengan yang lain, jadi tubuh wanita itu membelakangiku. Ughh.. enak sih, tapi aku ingin melihat wajah Tante Sita yang cantik.
Tanpa kuduga wanita itu memutar tubuhnya. Aahh.. dinding memeknya serasa memutar penisku. Kemudian wanita itu sudah berada dalam posisi menghadapku. Ternyata Tante Sita tidak menggoyangkan tubuhnya. Penisku dibiarkan beristirahat di dalam memeknya yang hangat. Sementara wanita itu menari-nari dengan erotis di atas tubuhku.
“Ehmm.. wah bakal ada gempa nih kayaknya..”, celetuk Tante Linda.
Aku tidak mengerti apa maksudnya. Tiba-tiba detik berikutnya aku merasakan ada sesuatu yang menyedot penisku. Gila..! Aku belum pernah merasakan sedotan yang begini hebat dari dalam memek. Ugghh.. tubuhku menggelinjang menahan rasa nikmat. Kulihat Tante Sita masih tetap menari dengan tenang.
“Gila kamu Shin.. jail banget sih.. hihihi..”, celetuk yang lain.
Ooohh.. aku betul-betul merasakan sensasi yang luar biasa. Tubuhku rasanya ingin orgasme tapi nggak sampai-sampai. Betul-betul kenikmatan panjang dan melelahkan.
Hampir satu jam kemudian, keempat wanita yang lain mulai mendekati tubuhku. Mereka berkeliling dan jemari mereka mulai menjelajahi tubuhku dan tubuh Tante Sita. Aahh gila.. betul-betul sensasional. Akhirnya penisku pun berdenyut tanda ingin orgasme.
“O-ow.. udah waktunya nih..”, seru Tante Sita.
Gila, wanita itu bisa tau. Tiba-tiba dinding memek Tante Sita semakin kencang berdenyut. Sedotan pun semakin kuat. Aahh.. aku nggak tahan lagi dan.., “Croott..!”.
Tante Sita langsung mengangkat tubuhnya dan dengan cepat berganti posisi berbaur dengan keempat sahabatnya. Kelima wanita itu bersorak melihat penisku yang memuntahkan sperma secara gila-gilaan. Lidah mereka berebutan menangkap cipratan-cipratan sperma yang keluar dari penisku. Ughh.. Mereka juga menjilati sperma yang berceceran di sekitar selangkanganku.
Tanpa terasa malam sudah hampir berganti pagi. Tubuhku tergeletak di antara tubuh-tubuh mulus yang kelelahan seperti aku. Rasanya capek sekali. Satu-persatu mereka tertidur tanpa sempat mandi. Hanya aku yang tidak bisa tidur, mungkin karena pengaruh obat tadi.
Aku melihat ke sekeliling. Tiba-tiba aku stress memikirkan bagaimana di kantor nanti pagi. Pasti ngantuk sekali. Aku langsung menelpon Blue Bird untuk minta dikirim taksi. Setelah itu aku memberanikan diri membangunkan Tante Ranie untuk pamit. Sulit sekali membangunkan wanita mabuk yang sudah tertidur. Akhirnya setengah sadar Tante Ranie bangun.
“Aku pulang dulu Tante..”, ujarku.
Tante Ranie tidak langsung menjawab. Seperti sedang mengumpulkan nyawa.
“Kok pulang sayang? Tidur di sini aja..”, jawab Tante Ranie. Aku tersenyum.
“Nggak bisa Tante, nanti pagi aku mesti ke kantor. Ini aja aku pengen tidur sebentar di rumah..”, jelasku.
Tante Ranie hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Oke, hati-hati ya..”, jawabnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
Sedikit geli juga melihat bibir Tante Ranie yang dimonyongin tanda memintaku untuk menciumnya.
“Mmmuuachh..”, aku mencium bibir lembutnya dengan mesra. Tak ada lagi rasa nafsu.
“Makasih yang udah ikutan party kita..”, kata Tante Ranie seraya merengkuh kepalaku.
“Iya, makasih juga buat acaranya Tante, gila.. tambah pengalaman lagi nih hihihi..”, Tante Ranie tertawa mendengar jawabanku.
Wanita itu lantas mengantarku sampai ke depan pagar.
“Tante nggak antar dulu ya Yo, lemes nih.. kamu sih hihihi..”, bisik Tante Ranie. Aku tersenyum.
“Iya nggak pa-pa Tante, aku udah pesan taksi.” jawabku.
Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Ranie sekali lagi. Hhh.. akhirnya aku pun tertidur di taksi.
E N D

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Ceritasemi17.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Download Now

Ladies